Warung Kopi Tutup, Kolom Komentar Buka 24 Jam
CelotehJauh sebelum tahun 2026, saya pernah menulis tentang "Antara Baca Koran dan Media Online, Mana yang Lebih Seru?". Waktu itu saya tidak sedang membaca koran atau media online. Apalagi menghakimi salah satu dari kedua. Saya hanya merasa ada sesuatu yang berubah dari cara kita menikmati informasi.
Di sebagian warung kopi Aceh, satu koran bisa dibaca lima meja sekaligus. Yang membeli satu orang, yang ikut membaca hampir setengah warung.
Sebelum Media Online itu ada, membeli koran itu seperti membeli satu paket cerita. Yang didalamnya ada berita politik, berita olahraga dan harga cabai pun ikut diketahui, bahkan iklan kehilangan ayam pun kadang tak terlewatkan sebelum korannya dijadikan pembungkus gorengan.
Herannya lagi, Kolom opini pun kadang membuat kita manggut-manggut. Seolah - seolah, kita paham dengan apa yang kita baca.
Nah hari ini, semuanya berubah. Informasi datang lebih cepat daripada menyeduh segelas kopi. Belum sempat membaca sampai paragraf kedua, kolom komentar sudah penuh dengan orang-orang yang merasa paling tahu isi berita dan begitu mudahnya tanpa sadar sudah mengambil posisi sebagai pengamat. Sebenarnya... SMP tidak tamat!
Baca Juga :
Kalau dulu orang membaca sampai selesai baru berdiskusi dengan tatap muka, sekarang kadang baru membaca judul sudah siap menyimpulkan seluruh isi berita bahkan kadang dunia beserta isinya.
Hal ini berubah ternyata bukan hanya medianya tapi juga cara kita bertongkrong juga ikut berubah.
Perubahan Ruang Publik dari Warung Kopi ke Kolom Komentar Media Sosial
Masih ingat bagaimana suasana warung kopi beberapa tahun lalu?
Satu orang membawa cerita dari koran pagi. Yang lain menyambung dengan berita dari radio. Ada yang menyela sambil menyeruput kopi, ada yang tertawa karena argumen temannya terdengar lebih lucu tanpa masuk akal.
Perdebatan memang terjadi. Tetapi ada satu hal yang jarang hilang. Semua masih saling menatap wajah. Kalau pembicaraan mulai panas, pemilik warung tinggal meletakkan segelas kopi baru. Suasana biasanya kembali mencair.
Baca Juga :
Sekarang meja itu masih ada. Kopinya juga masih panas. Hanya saja, sebagian besar tongkrongan telah pindah ke layar berukuran enam inci.
Kolom Komentar, Warung Kopi yang Tidak Pernah Tutup
Kalau warung kopi punya jam operasional, kolom komentar tidak. Ia buka 24 jam. Hari libur buka, Hari kerja buka, Tengah malam buka dan bahkan Subuh pun masih ada yang sibuk membalas komentar orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Kolom komentar menjadi ruang publik paling ramai di zaman sekarang. Semua orang boleh masuk. Tidak ada uang parkir, tidak perlu memesan kopi, bahkan tidak perlu memakai nama asli untuk menghindari diri dari lawan komentar yang menyerang pribadi.
Di sinilah semua orang mendapat mikrofon. Bebas untuk berucap dalam komentar, terserah komentarnya benar atau tidak.
Masalahnya, tidak semua orang membawa etika ketika berbicara.
Membaca Semakin Pendek, Berkomentar Semakin Panjang
![]() |
| Usai Diskusi tetap tertawa dan selfi | Dok. SIKONYOL.com |
Fenomena yang paling menarik justru bukan ramainya komentar. Tetapi pendeknya waktu membaca. Dan mengedepankan kesimpulan prematur yang ujungnya menjadi saling berbalas komentar tanpa arah, yang malah saling serang - menyerang tanpa tahu siapa yang diserang.
Judul berita sepanjang satu kalimat.
Isi berita lima halaman tapi disini komentar pembaca tujuh paragraf. Kadang saya bertanya-tanya, sebenarnya kapan sempat membacanya?
Bahkan ada berita yang baru diunggah satu menit, tetapi sudah memiliki puluhan komentar dengan kesimpulan yang sangat meyakinkan. Walaupun ujung - ujungnya lari dari kenyataan dan keluar dari itu sendiri.
Kalau dihitung waktunya, sepertinya jari untuk berkomentar memang bergerak lebih cepat daripada mata membaca. Dan bahkan kadang hanya baca Judul lalu terus berkomentar. Walaupun hanya satu sampai dua kata saja. Pada intinya komentar.
Semua Ingin Didengar, Sedikit yang Mau Mendengar
Warung kopi mengajarkan satu kebiasaan sederhana. Kalau teman sedang berbicara, kita menunggu giliran. Kalau memotong pembicaraan terus-menerus, biasanya akan ditegur, atau paling tidak ditertawakan.
Di kolom komentar, aturan itu seperti tidak berlaku. Semua ingin menjadi orang terakhir yang berkomentar. Semua ingin komentarnya mendapatkan balasan. Dan semua ingin dianggap paling benar.
Akibatnya, diskusi sering berubah menjadi pertandingan sengit. Bukan mencari kebenaran. Melainkan mencari siapa yang menang. Dengan berbagai dalih dan kadang menabrak etika. Tapi tetap merasa menang walaupun isi komentarnya tidak benar.
Algoritma Tidak Menyukai Keheningan
Yang membuat keadaan semakin menarik adalah algoritma media sosial. Dimana, komentar yang tenang sering lewat begitu saja. Namun kejadian sebaliknya, komentar yang memancing emosi justru semakin sering muncul di beranda.
Orang marah.
Orang lain ikut marah.
Lalu muncul komentar yang marah karena melihat orang sedang marah. Begitulah seterusnya hingga lupa waktu dan paket data lenyap dalam seketika.
Kalau di warung kopi, orang yang terlalu ribut mungkin diminta mengecilkan suara. Pelan, kadang ada tertawanya dalam situasi berbeda pendapat. Namun Di media sosial, semakin ribut kadang justru semakin terkenal. Dan bahkan tak jarang, sebagian orang mencoba cari tahu profil media sosial yang berkomentar.
Ruang Publik Baru dengan Wajah yang Tidak Terlihat
Ada satu hal yang hilang ketika tongkrongan berpindah ke internet, yaitu Wajah. Kita tidak tahu apakah lawan bicara sedang tersenyum atau sedang kesal. Tidak tahu apakah ia bercanda atau benar-benar marah. Kita hanya bisa bermain dengan ketikan huruf perhuruf tanpa mengerti ekspresi lawan kita berkomentar.
Padahal satu kalimat yang sama bisa memiliki banyak makna ketika diucapkan langsung dengan ekspresi dari orang yang memyampaikan langsung. Sementara di dunia maya, huruf sering kehilangan ekspresi. Akibatnya, salah paham menjadi lebih mudah daripada saling memahami.
Baca Juga :
Warung Kopi Belum Benar-Benar Sepi
Bukan berarti media sosial itu buruk dan bukan pula berarti kolom komentar harus ditutup. Tapi justru di sanalah banyak ide bertemu, kritik lahir, bahkan solusi kadang muncul. Dan ini hanya dalam kolom komentar.
Yang harus dipahami, masalahnya bukan pada teknologinya. Malahan masalahnya adalah ketika kita lebih bersemangat mengetik daripada mendengar. Lebih cepat menyimpulkan daripada membaca. Lebih sibuk membalas daripada memahami.
Jangan Sampai Kopinya Tinggal Nama
Warung kopi sebenarnya belum pernah kalah. Ia hanya kehilangan sebagian pengunjungnya. Mereka masih berkumpul. Hanya tempatnya yang berubah.
Dulu, suara tawa terdengar dari meja kayu.
Hari ini, bunyi notifikasi lebih sering terdengar daripada denting sendok di gelas kopi. Mungkin suatu hari nanti kita akan kembali duduk semeja, bercerita tanpa harus melihat layar, berbeda pendapat tanpa saling memblokir, dan pulang dengan senyum meskipun tidak ada yang berhasil mengubah pendapat siapa pun.
Karena sejatinya, tujuan tongkrongan bukan mencari siapa yang paling benar. Melainkan memastikan bahwa setiap orang masih punya ruang untuk didengar.
Dan kalau suatu hari warung kopi benar-benar sepi, jangan buru-buru menyalahkan harga kopi yang naik. Bisa jadi, semua pelanggannya sedang sibuk berdebat di kolom komentar, sambil meminum kopi yang sudah dingin.

