Kutukan Pilpres, Kalau Bukan Cebong, Kampret!

Gerakan fitnah berjamaah terhadap penobatan dua nama tadi, seolah sudah mendapat label halal dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MUI). Sehingga peng-legitimasi-an terhadap cebong dan kampret ini wajar dan wajib diterima oleh setiap umat beragama yang diakui oleh Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945. 
Tidak ada Cebong atau Kampret dalam foto ini | Dok. Sikonyol.com
Ku awali Wallahu’alam, Entah bagaimana ceritanya, tingkat kebingungan ku meningkat drastis bila ditanya tentang Kecebong (cebong) – Kampret yang kini lebih populer dari nama-nama ikan yang sering ditanyakan Pak Jokowi saat kunjung kerja ditengah-tengah warga. 

Hal ini menurutku jelas dan sudah terbukti, dimana kuis “Sebutkan nama-nama ikan” yang sering ditanyakan Pak Jokowi tersebut tidak akan mampu di jawab oleh warga yang kesehariannya tidak bergelut di dengan dunia per-ikan-an, mulai ikan asin, ikan kering dan bahkan ikan kaleng. Semoga semua ikan-ikan itu tidak di impor untuk pemenuhan pasokan ikan dalam negeri, ya Gaesss. 


Akan tetapi beda halnya dengan istilah Cebong dan Kampret yang mampu mengalahkan ketenaran Laudya Cynthia Bella dan bahkan jauh lebih terkenal dari club sepak bola Garuda Indonesia. Sehingga warganet dengan mudahnya mampu membedakan mana cebong dan mana kampret tanpa menunggu sampai waktu seminggu. 

Selain itu, cebong yang seharusnya berada di air dan kampret bergantungan di pepohonan, kini tak jarang berada di kolom komentar media sosial jagat maya ini. Mulai dari Facebook, Twitter, Youtube dan bahkan Google plus yang sudah Innalillah pun juga demikian. Jadi tak heran, jangan kan manusia, Google saja sudah duluan dan bahkan sangat ramah dengan kata Cebong-kampret. Keramahtamahannya itu patut diajungkan jempol sepuluh, walaupun harus pinjam jempol jari dan kaki tetangga sebelah. Kalo dijinin ya? 

Sejak tahun 2014 silam, mesin waktu yang terus berjalan menuju ke angka 2019 pun ikut menyeret istilah cebong-kampret didalamnya, tak terkecuali teman Sikonyolovers yang berada diluar angkasa sana. Sehingga lagi dan kembali lagi, cebong untuk pendukung Jokowi dan kampret untuk pendukung Prabowo menjadi sebuah istilah ngetrend yang kemudian mampu memecah belah arus perpolitikan Indonesia pada tataran prakmatis. 

Pada tataran ini, setiap umat manusia yang mendiami wilayah kepulaun negera indonesia yang berjumlah 17.503 pulau akan di judge sebagai Cebong bila mendukung dan berada di barisan Jokowi dibalik Jargon Revolusi mental ini. Sementara itu, bagi teman-teman yang berada di balik barisan Prabowo akan di tuduh sebagai Kampret yang sering tidur siang kepalanya berada dibawah. 

Gerakan fitnah berjamaah terhadap penobatan dua nama tadi, seolah sudah mendapat label halal dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MUI). Sehingga peng-legitimasi-an terhadap cebong dan kampret ini wajar dan wajib diterima oleh setiap umat beragama yang diakui oleh Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945. 

Dengan demikian jelas dan membuatku yakin bahwa kata Cebong dan Kampret mendapatkan tempat teratas di alam pikir manusia tanpa harus memperk0s* diri dengan segala imajinasi yang ada. Hmmmm,, 

Baca Juga : Makna Perjuangan Ditinjau dari Lagu Lawas dan Lagu Zaman Now

Namun yang menjadi catatan penting dan wajib digarisbawahi ialah urusan dukung-mendukung, sama halnya dengan urusan cinta-mencintai, dan rindu-merindui. Dimana urusan ini menjadi hak yang harus dan bebas dimiliki oleh warga negara yang menganut asas demokrasi. Sehingga setiap pilihan yang merupakan hak setiap warga ini benar-benar dihargai tanpa harus dituduh dan difitnah menjadi cebong atau sebaliknya menjadi kampret.

Padahal bila dilihat dari definisinya Cebong dan Kampret bukanlah demikian seperti yang sudah saya uraikan diatas sono. 
Kecebong adalah tahap pra-dewasa dalam daur hidup amfibia. Berudu eksklusif hidup di air dan berespirasi menggunakan insang, seperti ikan. Tahap akuatik inilah yang membuat amfibia memperoleh namanya. Kebanyakan berudu herbivora, memakan alga dan bagian-bagian tumbuhan. Beberapa spesies merupakan omnivora.  
Sedangkan Kampret menurut penjelasan di laman wikipedia.org adalah anak kelelawar dalam istilah Jawa. Berasal dari kingdom Animalia, Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Chiroptera, Subordo Microchiroptera. 
Nah, oleh sebab itu sudah jelas bukan! Cebong dan Kampret bagaimana bentuk dan jenisnya. Dan mulai dari sekarang berhentilah untuk saling mengutuk atas nama cebong dan kampret. Sebab Kalau bukan Cebong, belum tentu Kampret. Dan kalau bukan kampret juga bukan cebong. Akan tetapi yang pastinya kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. 

Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia Kalau Bukan Cebong, Kampret, Laudya Cynthia
Previous
Next Post »

33 Comments

  1. gak coba cari tahu mengapa dinamai cebong kampret?
    ada sejarahnya loh... dan ada filosofinya looh
    hahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malas cari tahu. Entar terjebak pula didalamnya.
      Heheheh

      Hapus
  2. aku nggak ikut-ikutan deh kalau ngomongin cebong sama kampret. kadang malah keliru nyebutnya kalau cebong ini itu, kalau kampret itu ya itu, gitu
    yg pasti kita sama2 Bhineka Tunggal Ika
    Setoedjoe

    BalasHapus
  3. heheheee...
    lagian ya lucu juga
    kok dinamain cebong dna kampret
    aku kan bukan cebong dan juga bukan kampret
    aku murni seorang anak manusia yang imut-imut, suer :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,, itulah kutukan Pilpres mbak. Kalo bukan Cebong Kampret.

      Hapus
  4. aku kok kurang nyaman ya baca kalimat pembuka nya bawa2 kata ulama MUI, hehehe.. Mungkin aku aja yang sensitif, cuma aku termasuk yg gak berani bawa2 ulama meskipun itu hanya "seolah" hehehe.. Maafkan.
    By the way, aku pun gak suka banget kedua istilah itu. Kaya ngehina banget gitu sesama manusia :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, Kan itu kata Seolah, pasti tidak benar.
      Lagian kalo bukan Ulama MUI kan gak mungkin Ulama GNPF atau GNPF Ulama.

      Hapus
  5. Mas.... aku sempet kaget lho pas baca awalnya. dudududuuuuu.... tapi ternyata isi pesan bagus banget. Aku pun setuju, udah saatnya kita berhenti saling mencela.
    Ah, untung aku mau baca dulu, ga buru-buru mengambil kesimpulan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ckckckckcck,, hampir saja ya Mbak.
      Heheheheheh

      Hapus
  6. Kalau kamu cebong atau kampret, jadi kepo? Lebih bagus lagi ditulis latar belakang kenapa disebut cebong dan kanpret

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan terlalu dalam. Entar kejebak pula.
      Hahahahaha

      Hapus
  7. Dan Facebook..punya banyak tombol..kalo ada yg sering nyebut cebong atau kampret.., aku tinggal tekan unfollow ..jika dia ngomen distatus ku tinggal ..hapus pertemanan...


    Kemudian..setelah itu.., aku merasa dunia lebih tentram sentosa..

    Beda politik itu wajar di negri demokrasi..tapi ya gak bilang cebong kampret..

    Semua tergantung orangnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm,,,,, Langsung hapus pertemanan?
      Kan Cebong dan Kampret itu disatukan oleh Bhinneka Tunggal Ika.

      Hapus
  8. Saya juga baru baca status ivan lanin tentang dua binatang ini dan kebetulan dirimu bahas juga disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, iya Kak.
      Aku sedang malas-malasnya juga dengan bintang politik ini.
      Hahahahaha

      Hapus
  9. politik memang keras ya bagaikan cebong dan kampret yang satu tapi tidak sama ada yang mendukung si cebong ada yang mendukung kampret tapi sayangnya saya netral

    BalasHapus
  10. Coba ya mereka yang sering saling mengatai cebong dan kampret itu rajin buka kamus dan baca definisi dari dua kata tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,,,,, pada dasarnya Cebong dan Kampret itu bukan manusia.

      Hapus
  11. Hahaha...ini yang bikin aku malas berkomentar masalah siapa yang lebih baik.
    Antara satu dengan dua.

    karena jadi yang keberapapun kamu, maka akan dapet julukan naas.
    Kalo gak cebi, yaa....kamfret.

    Sebal dengarnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya pengalaman kali ni si mbak....
      Kelihatan Baper nya..
      Hahahaha

      Hapus
  12. Aku kok paling gak suka kmrn itu org ngata2in cebong kampret, pdhl manusia lho.
    Udah gtu dengan bangganya ngaku dirinya cebong atau kampret, duh segitunya main presiden2an, pdhl presidennya siapa tetep aja kitanya kudu kerja keras nentuin nasib kita sendiri....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahaha,, presiden2an. Kayak mainan aja Mbak.

      Hapus
  13. Wkkka epik ini lengkap deh soal cebong dan kampret. Aq kalau cebong tahu karena kecebong. Tapi kampret baru ngeh

    BalasHapus
  14. Paling males dah kalau isi komen di sebuah postingan menyatakan "cebong" dan "kampret", topiknya apa malah nyeleweng ke politik, presidennya adem ayem, eh di balik layar pendukungnya yang koar-koar. Ga heran sih negara +62 atau negara ber flower :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok berflower. Kenapa itu angka +62 nya gan.???

      Hapus
    2. kan berflower (berkembang) jadi negara berkembang, nomor indonesia kan +628 bla bla bla... :v

      Hapus
    3. Hahahahaha.... Baru ngeh aku.

      Hapus
  15. hihi.. ini dicatat dalam sejarah, dan uniknya Indonesia! Mudah2an cebong kampret damai yaa pasca pemilu ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiinnn...mudah2an gitu mas.
      Sebab capek juga terus-teeusan kita di Fitnah sebagai Cebong atau Kampret.

      Hapus
  16. ingar bingar politik ini semoga lekas berlalu ya, kalau di kami cebong dan kampret jadi bahan penelitian aja, satunya dari kelas amfibi dan satunya mamalia. Hehe

    BalasHapus

Silakan tinggalkan komentar Anda! Di bawah ini!